Muhammad Kasuba

Menuju Kebersamaan Yang Adil: Refleksi Pemikiran Bupati Halmahera Selatan

Keberagaman dan Pengelolaan Potensinya

Posted on | August 1, 2008 | 7 Comments

Keberagaman dalam berbagai aspek merupakan keniscayaan bagi kita semua, tak terkecuali di Halmahera Selatan. Ia bisa berbentuk keberadaan berbagai macam ras manusia, suku bangsa, agama, ideologi, latar belakang pendidikan, profesi dan sebagainya. Jadi sebetulnya kita menjalani kehidupan ini dalam berbagai keberagaman, yang kita sadari atau tidak sadari, mau atau tidak mau, mempengaruhi segala aspek kehidupan kita.


Tetapi sayangnya, baik kita sadari maupun tidak, kita sering menafikan keberagaman tersebut dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan. Sebagai pribadi kita mungkin kurang menyadari bahwa diri kita memiliki sifat positif dan negatif, sehingga kita kurang bisa mengelola kedua sifat tersebut dan cenderung pada sesuatu yang kita sukai saja. Contoh ekstrim dari ini bisa kita lihat pada orang-orang narsis, yang merasa dunia ini berputar mengelilingi dirinya, tanpa pernah mau peduli pada keadaan orang lain. Sebagai makhluk sosial pun kita sering mengabaikan keberagaman dengan hanya bergaul dengan orang-orang yang sesuku, seagama, seorganisasi, separtai politik, atau setingkat jabatan, sama latar belakang pendidikan dan sebagainya. Dan sayangnya, hal seperti sangat kuat terlihat di Maluku Utara pada umumnya, dan Halmahera Selatan pada khususnya.

Salah satu contoh yang bisa diberikan di sini adalah bagaimana pemilu dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) baik di tingkat kabupaten, kota dan propinsi di Maluku Utara sejak tahun 2004 hingga sekarang kental dengan nuansa kesukuan, yang bagi saya adalah sebuah bentuk penafian terhadap keberagaman. Seorang calon anggota DPRD atau kepala daerah akan menang jika yang bersangkutan mampu menggaet suara pemilih yang dekat dengan dirinya dalam hubungan kekeluargaan maupun kesukuan. Faktor tersebut malah masih lebih kuat daripada faktor kesamaan ideologi/partai. Memang ini merupakan sebuah hipotesa yang belum pernah saya buktikan secara empiris, tetapi saya persilahkan kita menganalisa data hasil pemilu dan pilkada antara tahun 2004 dan 2008, dan saya yakin data-data tersebut akan memberikan jawaban yang tidak berbeda jauh. Saya sendiri pun mengakui bahwa kemenangan pada Pemilihan Bupati Halmahera Selatan tahun 2005 tidak bisa dilepaskan dari faktor tersebut. Dan sesungguhnya saya juga belum puas dengan kemenangan yang seperti itu.

Saya menyadari, bahwa keberagaman adalah sesuatu yang harus dikelola dengan baik. Karena itu dengan kesadaran yang penuh pada Pilkada tahun 2005 saya mengusung visi ”Menuju Kebersamaan Yang Adil” sebagai sebuah situasi yang ingin kami ciptakan di Halmahera Selatan yang memiliki keberagaman, terutama keberagaman suku bangsa yang tinggal di dalamnya. Untuk diketahui, 28 suku telah mendiami wilayah Halmahera Selatan sejak dahulu, dan insya Allah ini akan terus bertambah. ”Menuju Kebersamaan Yang Adil” juga muncul untuk mengobati luka akibat kerusuhan yang timbul di Halmahera Selatan dan Maluku Utara pada awal tahun 2000-an, yang tentunya meninggalkan luka yang dalam bagi orang-orang yang merasakan langsung dampaknya.

Untuk itu, ketika terpilih sebagai bupati, yang saya lakukan adalah membuat pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menjadi pemerintah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada di kabupaten ini. Bagi saya bentuk kongkrit dari misi tersebut yang dapat segera diapresiasi adalah dengan memosisikan pejabat dari berbagai etnis di Halsel untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dalam kabinet Kasuba-Wally, sehingga saya menyebut kabinet saya sebagai Kabinet Pelangi. Saya juga tidak segan-segan mendatangkan pejabat dan profesional dari luar Halmahera Selatan dan Maluku Utara yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja pemerintahan ini. Badan Pengelola Keuangan & Aset Daerah (BPKAD) dan Perusahaan Daerah merupakan contoh kongkritnya. Memang mungkin saja timbul pandangan bahwa saya kurang memandang profesionalisme seseorang dalam penempatan jabatan dan terkesan bagi-bagi jabatan, tetapi sebagai langkah awal saya kira sangat efektif untuk memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa bupati yang baru memang serius bergerak mewujudkan kondisi kebersamaan yang adil di Halmahera Selatan dengan melibatkan beragam jenis pejabat dari berbagai macam kelompok etnis di dalam dan di luar Halmahera Selatan. Kapasitas dan profesionalisme pejabat insya Allah dapat ditingkatkan melalui pembinaan yang sistematis. Tetapi kalau tidak diberikan kesempatan, bagaimana kita tahu bahwa dia layak atau tidak layak diberi amanah?

Setelah memulai mengelola keberagaman di lingkungan Pemkab Halsel, saya melanjutkannya dengan pemberian kesempatan kepada seluruh pihak untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembangunan di Halmahera Selatan dengan mendorong transparansi kegiatan pemerintahan. Contoh yang sangat kongkrit adalah pemusatan pelelangan proyek-proyek pembangunan di Unit Layanan Pengadaan dengan keterbukaan informasinya ternyata mendorong banyak pihak untuk berkompetisi di dalamnya. Orang yang dulu saya kenal sebagai pekebun saat ini sudah berani dan bisa mengajukan penawaran kepada panitia lelang, masya Allah! Alokasi Dana Desa juga merupakan contoh kongkrit pengelolaan keberagaman di Halmahera Selatan. Jika dulu desa-desa yang jauh dari pusat kekuasaan cenderung terabaikan pembangunannya, melalui alokasi dana pembangunan ke masyarakat desa, desa-desa terpencil dapat membangun desanya menurut yang dipikirkan dan direncanakan oleh masyarakatnya. Dan ini memberikan pengaruh yang luar biasa kepada masyarakat Halsel untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembangunan di daerahnya.

Bagi saya ada beberapa potensi yang dimiliki keberagaman dan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kehidupan kita bermasyarakat:

1. Keberagaman memberikan kesempatan kepada anggota-anggota masyarakat untuk melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika ada kekurangan tenaga maupun skill yang dibutuhkan, masyarakat yang beragam dengan cepat menerima bantuan yang diberikan oleh orang yang bukan berasal dari kelompok budayanya.

2. Keberagaman masyarakat mendorong perluasan wawasan anggota-anggotanya. Anggota masyarakat yang menghargai keberagaman tidak malu untuk mengambil sifat dan kebiasaan baik yang dibawa dari luar. Sebaliknya masyarakat yang belum memandang keberagaman sebagai suatu keniscayaan, cenderung defensif terhadap perubahan yang dibawa orang dari luar kelompoknya.

Dengan potensi yang disebutkan di atas, saya kira seharusnya tidak ada orang yang tidak ingin mengelola potensi yang dimiliki oleh keberagaman. Saya sendiri sebagai kader PKS yang memiliki keberagaman yang tinggi baik latar belakang keluarga, pendidikan maupun pekerjaan tentunya ingin menerapkan hal-hal yang dilakukan oleh para pemimpin dan guru saya dalam mengelola potensi keberagaman dan menjadikannya energi yang dahsyat untuk kemajuan masyarakat. Memang masih jauh jarak dan waktu yang harus ditempuh untuk mengelola potensi keberagaman di Halmahera Selatan, dan saya berdoa agar dapat istiqamah dalam menciptakan dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang dapat memotivasi masyarakat menghargai keberagaman.

Labuha, 31 Juli 2008

Comments

7 Responses to “Keberagaman dan Pengelolaan Potensinya”

  1. Matto
    August 7th, 2008 @ 9:36 pm

    Idenya bagus, idealis, tapi suasana lokal bergerak ke arah yang berbeda, dan harus hati-hati menyikapinya, karena suasana yang ada tidak terlepas dari sejarah yang telah melewati bumi kie raha ini. bentuk ketertinggalan dengan indonesia barat, akibat perilaku rezim-rezim yang telah lewat.

  2. zarnawi
    August 8th, 2008 @ 8:56 pm

    Betul Pa Bupati, keberagaman bila dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan utama untuk mendorong percepatan pembangunan khususnya di Halsel, dan sebaliknya bisa berpotensi menimbulkan bencana sosio-kultural yang maha besar-seperti yang terjadi di tahun 2000-jika keberagaman itu tidak mampu kita kelola dengan baik, na`uzubillahi min zalik. Dengan demikian, Bapak Bupati memang sangat membutuhkan seorang figur Wakil Bupati ideal yang bisa memberikan advise dalam upaya mengelola keberagaman di Halsel yang merupakan keniscayaan bagi kita semua.
    Pilkada Halsel 2010 sudah tidak lama lagi, tentu saja saya secara pribadi mengharapkan agar Bapak Bupati masih akan memimpin Halsel periode 2010-2015 dengan berbagai indikator keberhasilan pembangunan yang telah Bapak Bupati raih bersama jajarannya.
    Melalui serangkaian “proses tafakkur” saya temukan 12 kriteria figur Wakil Bupati Halsel 2010 yang ideal berdasarkan perkembangan dan kebutuhan bagi penyelenggaraan pemerintahaan Halsel saat ini dan di masa mendatang, yang saya sebut dengan kriteria SARUMA (Shaleh, Tawadhuh,Rukun, Manusiawi, dan Amanah). Insya Allah ke-12 kriteria dimaksud sesuai dengan harapan Bapak Bupati yaitu :
    1. Putra daerah Halsel.
    2. Analitis dan komunikatif.
    3. Mampu bersama Bapak Bupati untuk membangun dan mengembangkan birokrasi Halsel berbasis Nilai dan Menghargai keberagaman.
    4. Senantiasa menjalin hubungan yang baik dan tetap harmonis dengan Bapak Bupati dan Pihak lain.
    5. Mampu memberikan advise dan ide-ide yang cerdas kepada Bapak Bupati dalam mengatasi berbagai persoalan pembangunan yang terjadi di Halsel.
    6. Responsif terhadap kebijakan Daerah.
    7. Selalu berkoordinasi/konfirmasi/konsultasi kepada Bapak Bupati dalam menjalankan tugasnya selaku Wakil Bupati.
    8. Cepat dan tepat dalam mengambil kebijakan dan tindakan sesuai ruang lingkup kewenangannya selaku Wakil Bupati.
    9. Tidak elitis dan berpihak kepada rakyat.
    10. Mampu membangun dan mengembangkan kemitraan yang harmonis dengan pihak swasta bagi peningkatan investasi di Halsel.
    11. Selalu mau belajar dari keberhasilan Daerah lain dalam membangun Halsel.
    12. Punya obsesi untuk menjadikan Halsel sebagai barometer keberhasilan pembangunan Daerah Otonom baru yang berkeadilan dan sejahtera di Indonesia.
    Tanpa ada interest tertentu “Wallahu Ya`lam”, saya dengan niat tulus mengusulkan salah seorang figur Wakil Bupati yang juga cukup ideal untuk dipertimbangkan mendampingi Bapak Bupati pada Pilkada Halsel 2010 disamping beberapa figur yang mungkin sudah ada dalam mindset Bapak Bupati. Biodata beliau adalah sebagai berikut :
    Nama : Kadri Laetje, S.Pi
    Tempat/Tgl. Lahir : Laiwui, Kec. Obi 14 Mei 1974
    Pendidikan : Sarjana Fak. Petanian Unpati Ambon.
    Pekerjaan : PNS Dinas Perikanan Provinsi Maluku Utara.
    Dari perspektif brainware, beliau adalah :
    1. Orang muda, energik dan reformis.
    2. Diprediksi beliau memiliki basis massa yang cukup besar khususnya di Dapil Obi.
    3. Memiliki 7 sertifikat diklat teknis perikanan tingkat Nasional.
    4. Akademisi perikanan-sampai sekarang.
    5. Instruktur/nara sumber perikanan sejak tahun 2003-sampai sekarang.
    6. Memiliki pengalaman berorganisasi skala nasional dan daerah antara lain pernah menjadi Wakil Deputi Pemenangan Pemilu Partai Keadilan (PK)Kabupaten Maluku Utara tahun 2000.
    7. Memilki 7 buah karya tulis-sampai sekarang- yang beberapa diantaranya telah dipublikasikan melalui media massa lokal.
    Bila Bapak Bupati ingin mengetahui lebih lengkap mengenai otobiografi sdr. Kadri Laetje,S.Pi, insya Allah akan saya sampaikan kepada Bapak Bupati di Halsel. Semoga ke-12 kriteria wakil bupati Halsel ideal yang saya usulkan dapat diterima dan figur wakil bupati yakni sdr. Kadri Laetje,S.pi yang saya usulkan pula untuk mendampingi Bapak Bupati pada Pilkada Halsel 2010 dapat dipertimbangkan oleh Bapak Bupati dan jajarannya dari Partai Keadilan Sejahtera sebagai bagian dari proses demokratisasi saat ini. Semoga Bapak Bupati beserta jajarannya senantiasa mendapat bimbingan dan ridha Allah SWT, Amin. Terima kasih.

  3. zarnawi
    August 11th, 2008 @ 6:09 pm

    Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Bupati atas kemitmennya mewujudkan kebersamaam dalam tatanan Pemerintah Halmahera Selatan -Kabinet Pelangi, sebutan Bapak Bupati-. Untuk itu saya ingin mengingatkan kembali kepada Bapak Bupati bahwa dalam menempatkan pejabat haruslah lebih memperhatikan faktor profesionalisme pejabat disamping pertimbangan etnisitas. Jadi sistematika berfikir menurut hemat saya adalah harus difokuskan pada aspek WHAT (apa) yang harus dilaksanakan oleh pejabat di Halsel baru kemudian dipikirkan siapa orangnya (WHO) yang layak. Misalnya, ketika Bapak mengangkat seorang Kepala Dinas yang mengurusi sektor perdagangan, maka secara otonomatis faktor etnisitas sudah ada dalam diri pejabat itu, namun belum tentu pejabat itu memiliki visi dan sumber daya yang memadai untuk membantu Bapak Bupati dalam merumuskan kebijakan strategis daerah di sektor perdagangan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “Apakah Fit and propert test dalam rekrutmen pejabat bisa betul-betul dilaksanakan secara terbuka dan efektif sesuai kebutuhan jabatan dengan tetap berupaya untuk meminimalisir pengaruh yang kuat dari faktor etnisitas dalam pertimbangan penempatan pejabat?” ini adalah pertanyaan yang relevan dengan tema sentral “Mengelola Keberagaman” khususnya ke dalam tatanan Pemerintah Halsel. Sederhananya adalah jika sebuah mesin yang BBM-nya menggunakan minyak tanah kemudian Bapak Bupati pakai/ganti dengan Bensin/oli maka mesin itu akan rusak, dan BIROKRASI=MESIN.
    Paradigma penyelenggaraan otonomi daerah di era abad-21 ini menghendaki agar penempatan pejabat lebih memperhatikan aspek profesonalisme. Bagaimana mungkin tatanan birokrasi Halsel bisa berjalan optimal sesuai harapan Bapak Bupati jika para birokratnya bermental primordialisme (sukuisme) dan pragmatisme. Kalau mentalitas ini terbangun dalam tatanan birokrasi Halsel, maka tidak bisa disalahkan karena memang penempatan pejabat-pejabatnya oleh Bapak Bupati sejak awal lebih pada pertimbangan etnisitas. Implikasinya adalah pejabat dari daerah tertentu, akan cenderung berfikir bagaimana membangun daerahnya/tempat kelahirannya sehingga tidak lagi berfikir bagaimana membangun Halsel secara keseluruhan. Jadi paradigma berpikir pejabat yang primordialis cenderung menggunakan pendekatan geo-etnis dalam menjalankan tugas-tugasnya.
    Saya sangat sepakat kalau mengelola keberagaman ke dalam tatanan birokrasi Halsel yang dimaksud oleh Bapak Bupati secara substansial adalah penempatan pejabat berdasarkan pertimbangan latar belakang pengalaman dan pendidikan (profesionalismenya)bukan semata-mata pertimbangan faktor etnisitas. Memang saya mengakui bahwa faktor etnisitas sangat besar pengaruhnya dalam pertimbangan Bapak Bupati untuk memposisikan pejabat-pejabatnya sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas sosial dan politik Halsel. Namun sebagai informasi untuk Bapak Bupati bahwa hanya segelintir orang yang tidak senang dengan kepemimpinan Bapak Bupati yang membangun opini di tengah-tengah masyarakat bahwa Bapak Bupati dalam memposisikan beberapa pejabatnya lebih memperhatikan pejabat dari luar daerah dari pada putra daerah Halsel. Bagi Masyarakat kecil (wong cilik) seluruh Halsel, yang penting bagi mereka adalah bisa mendapatkan pelayanan dasar yang memuaskan seperti pendidikan dan kesehatan gratis, Santuan Uang Duka, Alokasi Dana Desa (ADD), kalau memungkinkan dari sisi APBD / PAD, masyarakat juga mendambakan adanya kebijakan listrik gratis dari Bapak Bupati dan lain-lain yang serba GRATIS…!!!. Singkatnya, saya ingin katakan bahwa mengelola keberagaman dari sisi etnisitas misalnya, harus lebih diarahkan pada PENGUATAN KEBIJAKAN DAERAH DI BIDANG SOSIAL & BUDAYA bukan pada aspek “siapa orangnya dan dari mana sukunya” dalam penempatan pejabat. Siapapun dan darimanapun etnis pejabatnya, nilai-nilai sosial dan budaya Halsel harus dijadikan aset dan terus ditumbuhkembangkan melalui kebijakan Daerah secara sinergis, sinkron dan berkelanjutan. Bukankah kita semua oleh Allah SWT telah diciptakan dari seorang laki-laki (min zakarin) dan perempuan (wa untsa)dan kita semua telah diciptakan bersuku-suku (su`uban) dan berbangsa-bangsa (wa Qabailan),UNTUK APA? Li ta`arafu (untuk saling kenal mengenal/bekerjasama). Firman Allah ini adalah sunnatullah yang sering kita sebut dengan keberagamaan merupakan keniscayaan bagi kita semua atau keberagaman merupakan sesuatu yang sudah diberi/given)oleh Allah SWT sehingga senang atau tidak senang, like or dislike, keberagaman harus kita terima.
    Kesadaran masyarakat Halsel untuk dapat menerima keberagaman sebagai sunnatullah perlu dibangun secara intens sehingga masyarakat sadar dan cerdas bahwa hanya dengan KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN, kita semua akan mampu meraih visi: Terwujudnya Halsel yang Bersih, Indah dan Aman (BERIMAN). Upaya ini butuh ikhtiar, komitmen, butuh waktu, dan kesabaran dan tawakkal kita semua. Demikian, semoga komentar saya bermanfaat dan semoga Bapak Bupati sehat selalu di Australia dalam menjalankan tugas-tugasnya. Insya Allah dalam waktu dekat saya sudah akan bekerja di Halsel.Sukron Katsiran.

  4. Takdir.Arief
    August 25th, 2008 @ 12:53 pm

    Assalamualaikum…
    Bapak Bupati Yang Saya Hormati.
    saya ingin memberikan sedikit masukan untuk situs resmi Kab.Hal-Sel.
    kalau bisa setiap Informasi itu di berikan galeri gambarnya supaya kami bisa liat suasananya langsung kaya seperti apa…
    contohnya : kemeriahan ULTAH HAL-SEL KE-5
    kalau bisa dengan gambarnya….
    saya selalu membaca berita-berita terbaru dari SITUS HAL-SEL,dan itu sangat membantu kalau ada foto atau gambarnya yang sedang berlangsung saat itu….
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati yang sudah mau menerima saran saya.

    Takdir Arief (Mahasiswa Utusan Daerah Halmahera Selatan,Di Institut Pertanian Bogor IPB 2007 )

    Wassalamualaikum….Wr…Wb

  5. emka tihasela
    August 28th, 2008 @ 7:20 pm

    bagaimana progress peningkatan aparatur berbasis nilai setelah berjalan selama 4 bulan

  6. n
    October 13th, 2008 @ 5:50 pm

    cofi samua banyak bicara saja

  7. H.Abdul Aziz Arbi
    April 8th, 2009 @ 9:35 am

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Teriring doa untuk antum, wahai saudaraku tercinta.

    kita yg pernah dlm 1 tim dakwah dimaluku, berharap kiranya antum dapat berbuat yg lebih optimal untuk masyarkat HalSel. karena prestasi yg antum toreh adalah sejarah besar dlm mengembalikan kejayaan indonesia timur, baik dalm ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan dan khususnya para ulama2 yg handal kedepannya.

    smg allah meridhai setiap langkah antum,dalam memberikan pelayana bagi warga HalSel yg tercinta. jadilah seperti Umar bin khatab, yg tidak tidur dikala melihat rakyatnya masih ada yg kelaparan.

    Allahu akbar,
    salam cinta&ukhuwah dari beta

    H.Abdul Aziz Arbi
    08151896549
    Aleg DPR RI 2004-2009 dapil PKS maluku

Leave a Reply