Menjadi Air Dingin Yang Menyejukkan Dan Mematikan Api Yang Membara
Posted on | February 6, 2009 | 16 Comments
Menjelang Pemilu banyak sekali isu yang dibuat dan disebarkan di masyarakat oleh partai politik dan para kandidat untuk mengalahkan dan menjegal lawan-lawan politiknya. Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan saya sebagai bupati sebagai bagian dari elemen politik pun tidak luput menjadi obyek isu politik yang disebarkan ke masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa pemerintah daerah saat ini hanya mampu membangun jalan setapak, pencabutan kuasa pertambangan sebuah perusahaan pertambangan (yang sebetulnya bermasalah) yang terus disoal oleh sebagian anggota DPRD, sampai bupati yang dikatakan melakukan korupsi dalam pembelian kapal Halsel Express 01 dan sebagainya.
Bagi saya pribadi, semua isu yang disebarkan ke masyarakat mengenai Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dan diri saya sebagai bupati maupun pribadi adalah hal yang harus disikapi secara dewasa. Isu-isu yang disebar baik melalui media massa maupun tulisan lain dan lisan saya anggap sebagai sebuah kritik yang mendorong saya untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pemerintahan di Kabupaten Halmahera Selatan. Saya menyadari bahwa saya dan jajaran Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan adalah manusia dan bukan malaikat yang dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Karena itu adalah hal yang sangat manusiawi jika dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan pembangunan di masyarakat ada kekurangan-kekurangan yang memerlukan perbaikan.
Tetapi penyebaran isu di masyarakat menjadi berubah posisinya ketika isu yang disebarkan menyinggung Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang berpotensi memecahbelah kesatuan masyarakat. Isu-isu bernuansa SARA sangat membahayakan stabilitas masyarakat Halmahera Selatan yang saat ini sedang giat membangun paska konflik yang melanda daerah ini awal tahun 2000-an. Sebagai masyarakat yang merasakan bagaimana pedih dan pahitnya konflik antar masyarakat di daerah ini tentunya kita tidak ingin melihat itu terulang kembali di sini.
Saya adalah saksi sejarah bagaimana isu SARA menjadi penyulut terjadinya konflik yang panjang dan berdarah di Ambon dan kemudian hampir di seluruh daerah dalam propinsi Maluku dan Maluku Utara. Konflik tersebut dimulai dengan adanya isu BBM (Buton, Bugis, Makassar) sebagai suku-suku pendatang yang sukses berdagang di Ambon dan kemudian dianggap mendominasi pasar Mardika, Ambon. Isu yang terus dipelihara tersebut kemudian meledak menjadi sebuah konflik horizontal dengan perkelahian 2 orang yang berbeda suku dan agama, yang dampaknya dirasakan di daerah yang letaknya beratus-ratus kilometer dari Ambon, bahkan sampai menyeberangi lautan.
Kabupaten Halmahera Selatan yang memiliki penduduk dari 18 suku juga merasakan dampak konflik yang dibangun di atas kebencian kepada sesama manusia yang hanya berbeda suku dan agama itu. Sejak saya mencalonkan diri sebagai bupati Halmahera Selatan saya telah bersumpah bahwa prioritas tertinggi saya sebagai bupati adalah mengembalikan dan menjaga perdamaian di antara masyarakat Halmahera Selatan yang sangat majemuk ini. Karena itu selama saya diberi amanah sebagai bupati Halmahera Selatan, saya akan berusaha menumpas habis seluruh benih perpecahan yang coba disebar oleh orang-orang yang tidak ingin melihat Halmahera Selatan maju dan sejahtera di atas perdamaian antar berbagai golongan masyarakat. Untuk itu saya telah mengajak Muspida Kabupaten Halmahera Selatan bekerja sama dalam mengusut dan menghukum orang-orang yang mendorong perpecahan dengan isu-isu SARA tanpa pandang bulu siapa orangnya.
Saya mengajak kepada seluruh masyarakat Halmahera Selatan agar kita semua jangan mau menjadi kayu-kayu bakar yang bisa dibakar setiap saat untuk menghancurkan masyarakat yang sedang membangun ini, tetapi marilah kita semua menjadi air dingin yang menyejukkan dan mematikan api yang membara. Semua demi stabilitas Halmahera Selatan yang kita cintai dan sedang membangun untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Labuha, 2 Februari 2009
Muhammad Kasuba
Comments
16 Responses to “Menjadi Air Dingin Yang Menyejukkan Dan Mematikan Api Yang Membara”
Leave a Reply



February 6th, 2009 @ 6:10 pm
Mencintai tidak selamanya memuji mengkritik adalah bagian dari mencintai, Namun, mengkritik yang tidak disertai solusi adalah menghujat. Saya yakin, kita semua menginginkan Halmahera Selatan yang aman, Rakyat yang sejahtera, dan kita sama-sama mencintai halmahera selatan karena, disanalah tanah kelahiran kita semua. Kita pastinya tidak mau sejengkalpun tanah kita dirampas oleh orang lain. Kalau begitu..kenapa masi saja ada oknum yang sedang mencari kayu bakar menyalakn api yang sudah lama padam? Benarkah dia mencintai Rakyat halmahera selatan? Saya yakin rasa cintanya sudah jauh menyelami kedalam hatinya, Namun barangkali caranya saja yang berbeda..Entahlah !!! tetapi adakah cara yang lebih indah selain duduk bersama mencarikan solusi yang terbaik buat rakyat?
Orang yang tenang tidak pernah galau, panik tergesa-gesa, tidak emosional, tidak overacting. Orang tenang, juga akan bisa menerima informasi lebih banyak, hingga dia bisa lebih memahami. Sedangkan orang yang emosional pendek kemampuan memahaminya, akibatnya kalau merespon akan tidak bagus karena keterbatasan pemahamannya. Ketenangan pun akan membawa kewibawaan, atau karisma tersendiri bagi pemiliknya. Ia akan disegani oleh teman dan lingkungannya. Sebaliknya, orang yang overacting tidak akan memiliki kharisma. Terutama, kepada para calon pemimpin dalam skala apapun, ia harus berlatih mengendalikan diri, tetap tenang dalam kondisi bagaimanapun sulitnya. Dan, tenang bukan berarti lamban.
Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling tenang, tetapi berjalannya sangat gesit. Karena ketenangan tidak ada kaitannya dengan waktu, melainkan dengan pengendalian diri, artinya dia tetap gesit, tangkas tidak ada gurau berlebih, atau berteriak-teriak. Pribadi yang kalem senyum berukir jernih, tidak pula banyak bicara kalau memang tidak perlu bicara. Akibatnya, orang yang tenang mendapat ilmu yang lebih banyak, mendapatkan kemampuan memilih keputusan lebih baik.
Semoga Kita semua, sebagai anak negeri tercinta Halmahera Selatan tetap tenang dan sikapi dengan bijak terhadap isu apapun yang menyulut perpecahan. Comment ini saya tulis sesaat diskusi beberapa Mahasiswa/I Halmahera Selatan Yang ada di MALANG-JATIM. Terhadap persoalan NHM dan kualitas Demokrasi di HALSEL. Intinya kami prihatin dengan style komunikasi politik yang tidak elegan. pada ahirnya membawa masyarakat dalam konflik elit politik yang pada gilirannya masyarakat dikorbankan. MAJU TERUS NEGERIKU HARAPAN ITU MASIH ADA……
February 10th, 2009 @ 1:06 pm
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Jujur itu adalah pekerjaan berat buat bapak. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Ada beberapa solusi yang mungkin bisa ditempuh. Namun butuh kerja keras yang serius oleh semua aparat dibawah anda. Tanpa itu tidak ada gunanya. Ibarat mulut berteriak didepan corong suara, tapi semua pengeras suara tidak ada yang aktif dan masyarakat tutup telinga.
Dari awal saya mengenal Halsel, isu SARA dari semua suku yang ada sudah mendarah daging. Sudah dapat dprediksi kelak ini jadi bahan baku saat terjadi pilkada atau legislatif.
Pembangunan mental & wawasan ditujukan untuk membentuk pola pikir positif. Hilangkan konsep diskriminatif pribumi, putra daerah & pendatang. Dengan menerapkan persamaan hak & kewajiban. Karena perbedaan antara 2 pegawai yang berbeda ras apalagi agama akan menjadi pijar arang. Kecil namun membesar kelak.
Pembangunan di semua sektor dan di semua daerah. Tidak ada skala prioritas jika kondisi sama. Dalam arti jangan membuat perbedaan pembangunan di suatu daerah hanya berdasarkan dari laporan skala prioritas yang dibuat pejabat berwenang karena kebetulan berasal dari daerah tersebut atau satu suku. Jika tidak, peluang ini jadi bibit permusuhan menjadi bahan bakar kerusuhan. Apalagi buat kalangan oposisi. …”dia pe kampung so maju, barang dong pe orang, so pejabat di kota…”
Secara teoritis semua pendatang, khususnya mereka para pedagang & investor. Datang mencari nafkah di kampung orang namun terkadang timbul gesekan dengan putra daerah yang merasa didahului atau lebih baik. Ini bisa diperparah dengan menerapkan konsep usaha dengan mengutamakan keluarga sendiri. Akan menjadi lebih buruk jika konsep asimilasi dianggap sebagai bentuk baru dari perbudakan modern.
Saya berpikir kalau semua orang di Indonesia ini dapat berprinsip bahwa “dimana tanah kupijak disitu langit kujunjung”. Tidak akan ada lagi istilah “daerah tertinggal, daerah konflik, daerah rawan dan daerah daerahan”. Semua sama.
Pengembangan SDM, ditujukan pada pengembangan skill, pendidikan lanjut & perluasaan wawasan. Bukan pengajaran ilmu putih atau hitam. Atau like atau dislike. Karena jujur, orang diluar Halsel, mengenal ataupun jika ingin datang ke Halsel harus hati2. Katanya banyak “ilmunya”, bisa2 tidak pulang. Suka keroyok dulu baru tanya. Yang bilang ini bukan bukan dari orang luar, tapi orang Halsel sendiri yang katanya “jadi korban”. Jadi aneh kok bisa begitu.
Dan kalau semua hal negatif ini muncul dan sudah mendarah daging di Halsel. Sisa nunggu aja kayu bakar ketemu api. Apalagi terlalu sering kampanye di daerah yang diangkat bukan program pembangunan untuk daerah, tapi siapa putra daerah dan siapa yang makan untung. Akhirnya yang terjadi adalah rusuh dulu baru hancur terus bangun kemudian rusuh lagi.
Namum harapan saya jika masyarakat Halsel bisa dewasa dalam berpikir & berwawasan. Isu yang berkembang akan menjadi nilai koreksi, bukan nilai negatif yang dipermasalahkan. Perlu banyak penyuluh bapak dilapangan bekerja keras untuk membuka diri dengan perubahan yang lebih baik tapi tidak meninggalkan sopan santun agama & adat istiadat kepada masyarakat luas. Jangan jadikan penyuluh sebagai kampanye terselubung dari ormas politik.
Satu bahasa, satu sikap. …mau membangun untuk masa depan atau membuat kerusuhan untuk masa depan karena masa lalu.
Ada baiknya segala isu berbau SARA di counter back dengan sesering mungkin membuka dialog terbuka dengan masyarakat dari lapis ketemu lapis bawah. Entah itu pengajian atau apapun namanya. Atau mungkin perlu dibentuk semacam musyawarah yang melibatkan semua unsur masyarakat pada saat rancangan pembangunan daerah disusun. Biar masyarakat tahu langkah apa yang diambil dan karena apa. Kan masyarakat ingin dibangun bukan pemerintahannya.
Jangan hanya muspida….guru, tenaga kesehatan, ulama, penyuluh, aparat dan orang yang menonjol ikut dilibatkan dalam usaha memhilangkan konfklik berbau SARA. Simpel sebenarnya…..contohnya saat seorang guru mengajar di kelas atau bidan yang menolong partus berucap seperti ini.:…”tong orang amazing so dari dulu beken bagini, cuma ngoni baru tau…” Siswa atau pasien yang dengar akan berujar dalam hati:…”tunggu e nanti tong jadi bidan atau guru tong kase tunjuk di ngoni pe muka”….Padahal semestinya mereka berucap :…”tong belajar ini bisa beken baek, coba ngoni bikin yang lebih baek, kita takut barang kita yang keliru”….
Mau 18 suku atau 10 bangsa tidak berpengaruh selama masyarakat dewasa dan tidak kolot. Di Jerman & Perancis saja ada lebih 50 bangsa bisa hidup rukun. Kenapa disana tidak.
Kalau bapak bupati tersinggung dengan hal ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Karena semua orang tahu manusia bukan malaikat. Cuma terkadang banyak manusia tidak sadar kalau dia bukan malaikat.
Wassalam,
Somewhere in Makassar, 10 Februari 2009
Cherun Anshar
085255625581
February 17th, 2009 @ 5:10 pm
Isu tentang putra daerah dan orang luar sebetulnya adalah isu yang seharusnya sudah tidak perlu dibesar-besarkan lagi dalam era globalisasi seperti saat ini.
Kalau mau dirunut ke belakang, ketika kita belajar sejarah di sekolah dikatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang-orang pendatang dari Yunan. Di Halsel pun demikian. Orang-orang yang sekarang disebut orang Bacan sesungguhnya adalah orang-orang pendatang dari pulau Makian. Orang Tobelo-Galela yang sudah lama bermukim di Bacan pun saya kira bukanlah penduduk asli Bacan. Hanya karena mereka lebih dulu datang dan lebih lama bermukim di Bacan maka disebut putra daerah, dan sebetulnya itu tidak berarti apa-apa jika dia tidak memiliki kecintaan kepada daerah ini yang direfleksikan dengan berbagai sikap positif dalam membangun daerah ini. Di antara yang disebut ‘putra daerah’ tsb. ada yang bekerja keras membangun daerahnya dengan sikap amanah dan positif, tetapi ada juga yang hanya membangga-banggakan statusnya sebagai keturunan orang yang lebih dulu datang dan lebih lama bermukim di sini, tetapi tidak berbuat apa-apa… Tipe yang terakhir inilah yang seharusnya dihindari oleh kita semua.
Orang-orang yang datang kemudian ke Halsel, tetapi mereka bekerja keras dan membantu mengembangkan daerah ini dengan kapasitasnya masing-masing saya anggap lebih pantas dihargai daripada ‘putra daerah’ yang tidak berbuat apa-apa…
Yang penting lagi, Halsel adalah bagian dari Indonesia, kalau pejabat instansi struktural (TNI, polisi, pengadilan negeri, kejaksaan negeri, kantor departemen agama dll.) yang bukan ‘putra daerah’ tidak pernah dipertanyakan keberadaannya, mengapa orang-orang yang bukan ‘putra daerah’ yang bekerja di pemerintah kabupaten selalu dipersoalkan? Sebagai bagian dari Republik Indonesia, Halsel berhak mendapatkan bantuan dari orang-orang Indonesia yang bukan ‘putra daerah’ untuk membangun daerahnya, dan sudah sewajarnya masyarakat daerah ini ber-fastabiqul khayraat dengan siapa saja untuk membangun Halsel ke arah yang lebih baik.
February 25th, 2009 @ 4:11 pm
It’s need a week to answer my opinion? That’s too bad. I had pulling your legs.
Bukan membesar2kan….namun mewaspadai…apa tidak melihat sejarah. Thats I mean it. SARA dan Provokasi tidak pernah melihat era globalisasi atau tidak. Namun perlu dicermati baik-baik, kalau globalisasi itu sendiri menjadi faktor pemicu kerusuhan jika diterapkan keliru & ditanggapi negatif. Mengingat kasus WTO dan AFTA tahun 1995 – 1999, ini pioner awal munculnya globalisasi. Kenapa orang barat sendiri ragu? Kenapa pakar ekonomi kita juga berpikir sama? Malah menganjurkan untuk menunda. Cuma para politikus yang berteriak lanjutkan, karena tidak tahu akar masalah. Hasilnya….ekonomi Asia hancur. Sekarang adalah second round by america. Ingat isu SARA, tidak pernah mengenal peradaban. Belajar pengalaman sejarah negara maju. Jangan salah, kerusuhan seperti di Indonesia pernah juga terjadi di Perancis, Bosnia & America Serikat. Terakhir sekitar 2000. Makanya pernyataan Obama kalau beliau salut dengan pemerintah Indonesia yang bisa bersatu dengan sejumlah suku, agama, ras & golongan yang banyak ragam, bukan pernyataan biasa. Mereka sendiri belum pernah betul2 damai dan tidak diskriminatif. Isu republik & demokrat, utara dan selatan, muslim – non muslim dan pendatang serta bukan pendatang masih hangat disana.
Yang mesti kita lihat bersama sama….(bukan untuk Halsel saja) bagaimana caranya slogan “…mari membangun untuk masa depan lebih baik…” yang tidak merusak halaman rumah sendiri & orang lain. Jadi kalau muncul pernyataan “…mengapa orang orang yang bukan ‘putra daerah’ yang berkerja di pemerintahan kabupaten selalu dipersoalkan…” Double question mark. Whats wrong with “otonomi daerah” policy?. Artinya munculnya “like and dislike” karena apa?. Itu yang harus dicarikan solusi. With action of course. Coba kita cermati masalah yang muncul di daerah wilayah Indonesia. Masalahnya hampir semuanya sama ; perbatasan kampung, hasil daerah, putra daerah, alokasi dana pembangunan, cpns daerah dan pemekaran wilayah serta banyak lagi. Artinya kalau ingin Halsel tidak seperti itu apa yang harus dibuat.
Bukan menghindari masalah. Kalau ada sekelompok orang seperti tipe yang anda maksudkan seharusnya dihindari. Mestinya di dekati dong. Kenapa mereka begitu? Apa yang harus diperbuat agar tidak begitu?. Menghindari sama aja menunda. Kalau seperti itu artinya anda membangun bola es. Kecil awalnya besar kemudian lalu menggelinding kebawah dan menghancurkan apa saja yang dilewati.
Kalau ada orang yang ingin melihat daerah lain hancur ataupun orang lain hancur tercerai berai. Kayaknya itu bukan orang deh. Perlu dipertanyakan masalah jiwa & mentalnya. Dan saya berpikir positif untuk Halsel. Harapan saya dengan mengangkat masalah kepermukaan agar para pejabat bisa mencari solusi. Asal jangan di pelintir untuk kepentingan pribadi dan golongan. Kayaknya himbauan bapak bupati tidak menjadi kayu bakar perlu implementasi yang nyata.
So make it better life, make it true, not for Halsel only. But for our nation.
25 Februari 2009
On the way,
Somewhere Manado-Makassar-Surabaya-Batavia,
When I miss to see you in bacan where you grew up with a view of the mountain and sea.
Chaerun Anshar,
March 13th, 2009 @ 3:32 pm
Saya sebagai orang yang pernah bertugas di Labuha selama 2 tahun banyak kenangan suka dan duka, meski saya hanya tahu sedikit tentang bliau,namun ketika bertemu langsung dengan bliau orangnya benar-benar menyejukkan hati, cara bicara pembawaannya, mudah-mudahan bliau dapat menjadi Pimpinan yang tetap bijak dan mengayomi masyarakat Halsel yang majemuk.
March 22nd, 2009 @ 6:11 am
Selamat Pagi Pak Bupati,apakabar…
saya tertarik dengan artikel Tata Niaga Hasil Bumi di Desa,namun sayang tidak ada lanjutan tentang realisasi ide ini yang diinfokan pada Blog pak Bupati,seandainya ada waktu mohon bupati lanjutan informasi tentang Tata Niaga Desa,mohon dimaklum saya tak bisa melihat langsung hal ini di HalSel,terlepas dari itu hasil tulisan pak Bupati saya cantumkan pada blog HasilBumi Online,tempat bertukar informasi antara petani dan pengusaha hasil bumi Indonesia dan negara lainnya
Salam Nusantara
HasilBumi Online
March 29th, 2009 @ 2:45 pm
Ass.wr.wb.
seorang yang terpelajar adalah seorang yang rendah diri dan selalu tenang mnyelesaikan masalahnya. kadang, di maluku utara orang yang diam dan tenang malahan selalu dijadikan obyek fitnah untuk menutupi kebobrokan sifat dan mental mereka. Fitnah bisa disebarkan oleh orang sekitar kita yang tidak senang dan akan gila melihat ketenangan dan kesuksesan kita. fitnah juga bisa di sebabkan oleh rendahnya pendidikan dan martabat serta moral seseorang sekalioun dia sekolah setinggi langit!!!!!!!.. Fitnah juga adalah kebiasaan hidu seseorang yang takut dgn jabatan dan kedudukan mereka akan jatuh tanpa mengintrospeksi diri mereka. Fitnah yang terjadi bisa karena hukum karma akan apa yang dia perbuat selama ini kepada orang lain. ALLAH SWT sangat membenci orang yang suka berbuat zholim kepada orana lain dan kepada orang yang semena-mena dengan kekuasaannya serta lupa diri!!!.. Janganlah kita menuduh orang lain sebelum kita mengintrospeksi apa yang telah kita lakukan kepada orang sekeliling kita. Fitnah juga merupakan rakhmat sebenarnya kalau kita duduk merenungi dan mencoba menjawab kenapa, kapan, dimana pernah saya berbuat kpd orang lain.
Saya coba mengkritisi problematika SARA yang tersebar di bumi SARUMA.. Selama kemerdekaan indonesia yang telah berusia puluhan tahun ini, maluku utara telah mencetak sangat banyak dan melimpah ruah sarjana-sarjana berbagai bidang ilmu dari lulusan luar daerah maupun dalam daerah sendiri.. Yang dipertanyakan adalah sarjana disiplin ilmu mana yang tidak nada di maluku utara maupun di Halmahera selatan ?????…. apakah masih kurang banyak ataukah nmelimpah dan banyak pengangguran !!!!.. Setiap tahun berapa banyak sarjana dari maluku utara dan halmahera selatan yang lulus dari luar daerah maupun dalam daerah dan mau dipekerjakan dimana ???… Tidakkah ada tanggung jawab pemerintah untuk memberdayakan dan meningkatkan SDM masyarakatnya sendiri ????.. apa perlu selama lima tahun pemerintahan kabupaten halmahera selatan selalu mendatangkan orang dari luar daerah sampai selesai masa jabatan bupati ??????… apakah orang asli daerah selalu dibawah terus dan kita dikuasai oleh oraang luar daerah selamanya tanpa memikirkan menyekolahkan putra daerah dan dibiayai pemerintah daerah untuk mengisi kekosongan tersebut ?????…. Saya pantau dan mendata potensi SDM Halmahera selatan sangat komplit dan malahan berlebihan untuk mengisi porsi yang dibutuhkan.. apakah kita harus menunggu selama puluhan tahun dan selalu menganggap orang daerah tidak ada sumberdaya manusianya ????.. bohong semuanya…, bafoya diri sendiri dan mengingkari daerah sendiri !!!!!… Pemerintah harus diisi oleh orang yang cerdas, pintar dan pintar-pintar, lincanh, agamais serta bermoral dan mencintai daerahnya serta harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk meningkatkan sumberdaya manusia di daerahnya !!!!!.. Pemerintah Daerah hanya menjalankan dan membangun daerah dari uang pajak masyarakat bukan kerjanya hanya penuh dengan iri dan dengki serta penuh dengan fitnah !!!… Kalau tidak mampu menjalankan pemerintah yang jujur, baik, bijaksana, arief serta bermoral dan bermartabat mendingan mundur sajalah dan jangan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam untuk melindungi diri, itu namanya pengecut !!!!!!..
May 14th, 2009 @ 3:22 pm
rimbun daun banyaklah dahan
pohon peneduh bukan sembarang
tunaikan tugas tak berkesudahan
usah hiraukan gunjingan orang
biji kwaci teman berkelana
singgah di kuil para biara
biar dicaci biar dihina
melangkah pasti tak banyak bicara
taklah terbatas ranah kembara
kerana luas bumi Pencipta
merentas benua melayari samudera
tebar kebaikan bagi semesta
Hang Nadim batam nama bandara
dari situlah pesawat melesat
meski kepahitan terus mendera
tiada bergeming mengatur siasat
May 17th, 2009 @ 10:30 am
Seorang suami (ulil amri) dalam keluarga (kelompok Kecil) harus bisa mengatur/menyuruh isterinya memakai jilbab (dlm alquran, seorg mukmin hrs taat pd alquran/hadist rosul/ulil amri). Kalau dia tdk bisa mengatur keluarganya, bagaimana mungkin dia bisa mengatur negara RI dgn baik.(isteri sby/budiono tdk berjilbab demikian pula dgn mega pro). Pilihan kita (& juga selaku ulil amri dari PKS) akan dimintai pertanggungan jawabnya oleh Allah (termasuk juga apakah kita sdh tepat berpihak pada capres yg benar). Selama kita masih hidup, masih ada waktu utk berubah/bertobat.
May 19th, 2009 @ 2:12 pm
Lho sudah on line lagi?…kok tidak tulisan lain Bapak…..
June 1st, 2009 @ 4:43 pm
kita jangan terlalu berdebat masalah putra daerah dan bukan putra daerah,yang terpenting skrg dr manapun dia, suku apapun itu jika pemikiranya sama sejalan dengan apa yang rakyat inginkan kenapa tidak,demi kemajuan halsel dan kesejahteraan halsel lepaskan semua egosentri seperti itu,halsel skrng slangkah lebih maju dari daerah pemekaran lainnya, contohnya kebijakan pemerintah tentang kesehatan gratis dan alhamdulillah itu semua sdh dirasakan oleh masyarakat halsel..
jadi kita yang katanya merasa putra daerah harus sadar dan intropeksi diri bisa tidak kita berlaku adil dan bekerja dengan profesional tanpa orang yang katanya bkn putra daerah,jangan- jangan waktu jam kantor yang dihabiskan dengan kesibukan maen domino dan maen Game dikomputer.
Go Ahead Bupati Halsel Dengan Kebijakan-kebijakanmu,rakyat pasti mndukung..
sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum,sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Q.s Ar-Ra’d:11.
maka apabila kamu telah selesai darisuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh – sungguh urusan yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Q.s Alam Nasyrah:7-8.
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan – akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh. Q.s Ash-Shaf:4.
apapun latar belakang anda,suku anda,mari kita satukan visi kita untuk halsel kedepan yang lebih baek.
Yakin usaha sampai..Allahu Akbar..
March 31st, 2010 @ 3:15 pm
Salam,
Bpk. Bupati, Saya, sebagai bagian dari generasi muda Halsel (yg sedang merantau mencari ilmu) jg akan kecewa berat dan bersedih tatkala isu murahan (SARA, dll) mejadi senjata politik dan isu saling menjatuhkan dalam pertarungan Pemilkada.
Jika pd kenyataanya isu SARA masih menjadi senjata politik para kandidat calon Bupati, maka sesungguhnya perpolitikan kita (di Halsel) sedang mengalami kemunduran dan mengalami degradasi. Isu SARA atau dengan cara-cara berpolitik yg memakai isu SARA (dalam bentuk apapun) adalah cara-cara orang yg tdk berkualitas dan dangkal dalam berpikir. Politasi isu SARA jelas menunjukan ketidakdewasaan berpikir dan tdk adanya etika yang baik berpolitik seseorang. Berharap bapak Bupati tdk ikut-ikutan mengikuti, dan ikut-ikutan juga menggunakan isu SARA dalam mendulang dukungan. Cukuplah penderitaan torang basudara krn isu-isu dangkal yang tidak berkualitas seperti ini.
Masyarakat Halsel kedepan sudah harus mendewasakan diri dalam berpolitik. Masyarakat Halsel sdh waktunya dididik untuk mengembangkan politik “APA” dan bukan “SIAPA”. Masyarakat Halsel harus didorong untuk memilih dan menentukan pilihan politiknya berdasarkan pemahaman akan apa (visi, kualitas diri, kepemim;pinan dan program) dari setiap kandidat. Sangat naif dan buruk, jika masyarakat kita msh terjebak pada pola memilih krn kesamaan agama, suku, asal desa, dll. Ini (politik SIAPA) jelas-jelas adalah cara-cara orang kurang berpendididkan.
Bpk. Bupati sebagai seorang intelektual Muslim juga saya harapkan agar bisa menerapkan pola politik APA dalam proses pemilihan nanti. Organisasi-oragasisai kedaerahan (organisasi suku Tobelo, Makian, Dan Galela) juga jng dijadikan sbg sarana-sarana mendulang suara. Pola seperti ini jg hanya menimbulkan konflik antar suku yg seharusnya tdk mestinya terjadi.
Saya telah dilahirkan dng satu identitas suku dan agama (Tobelo dan Kristen). Namun, apakah krn saya beragama Kristen dan bersuku Tobelo lantas orang di luar agama dan suku saya adalah musuh? Waah, tentu ini pemikiran-pemikiran tdk menusiawi dan pikiran yg harus disingkirkan jauh-jauh dr cara hidup dan berpolitiknya kita.
Saya jg menjadi salah satu saksi sejarah konflik (ikut mengungsi, dll), dan bagi saya konflik tahun 2000–2002 adalah pelajaran yg seharusnya cukup bagi kita agar tdk terjebak lg dalam pemikiran yang bodoh dan sempit dalam memandang perbedaan (agama dan suku). Jd, imbauan saya bagi siapa saja, yang masih mencintai negeri ini dan khusunya Halsel, ayo waktunya membuang jauh-jauh cara-cara politik RASIS (SARA, dll). Kembangkan politik cerdas, dan pilihlah dan berkompetisilah dng arif, bijak dan jujur.
Sekian komentar….
April 21st, 2010 @ 9:51 pm
Sore Pak Kasuba,
Pak, kami dari Panitia World Geothermal Congress 2010. Kami ingin mengundang Bapak untuk hadir di acara Opening Ceremony “World Geothermal Congress 2010″ tanggal 26 April 2010 di “Bali International Convention Centre”, Nusa Dua – Bali. Mohon kami di-informasikan no. telpon kontak kantor Bapak (Bupati Halmahaera Selatan) beserta no. fax kantor Bapak agar kami bisa segera mengirimkan undangan-nya ke Bapak. Sehubungan dengan waktu pengadaan acara sudah sangat dekat, mohon info kami segera melalui email kami yang tertera diatas, terima kasih banyak Pak atas dukungan serta partisipasinya.
Regards,
Ms.Rie for Ms.Iga
April 21st, 2010 @ 9:52 pm
Sore Pak Kasuba,
Pak, kami dari Panitia World Geothermal Congress 2010. Kami ingin mengundang Bapak untuk hadir di acara Opening Ceremony “World Geothermal Congress 2010? tanggal 26 April 2010 di “Bali International Convention Centre”, Nusa Dua – Bali. Mohon kami di-informasikan no. telpon kontak kantor Bapak (Bupati Halmahaera Selatan) beserta no. fax kantor Bapak agar kami bisa segera mengirimkan undangan-nya ke Bapak. Sehubungan dengan waktu pengadaan acara sudah sangat dekat, mohon info kami segera melalui email kami yang tertera diatas, terima kasih banyak Pak atas dukungan serta partisipasinya.
Regards,
Ms.Rie for Ms.Iga
April 21st, 2010 @ 9:54 pm
Sore Pak Kasuba,
Pak, kami dari Panitia World Geothermal Congress 2010. Kami ingin mengundang Bapak untuk hadir di acara Opening Ceremony “World Geothermal Congress 2010? tanggal 26 April 2010 di “Bali International Convention Centre”, Nusa Dua – Bali. Mohon kami di-informasikan no. telpon kontak kantor Bapak (Bupati Halmahera Selatan) beserta no. fax kantor Bapak agar kami bisa segera mengirimkan undangan-nya ke Bapak. Sehubungan dengan waktu pengadaan acara sudah sangat dekat, mohon info kami segera melalui email kami yang tertera diatas, terima kasih banyak Pak atas dukungan serta partisipasinya.
Regards,
Ms.Rie for Ms.Iga
June 3rd, 2010 @ 5:47 am
ass.wr.wb.
Bapak bupati yg kami kasihi dan sangat kami hormati,
sebagai generasi muda anak negeri,
perkenankanlah kami untuk sekedar bertimbang rasa……
masa lalu yg kelam adalah pelajaran yg berharga,
masa lalu yg sukses adalah sejarah penuh kegemilangan,
dan masa depan yg penuh tantangan adalah optimisme,
sebuah keagungan bagi putra putri negeri.
tampak bulan penuh purnama…
juanga berlayar kelilingi negeri saruma.
aduhay apa hendak dikata…
janji terbayar oleh sang nahkoda.
bukan batu bukan api…
torang bersatu yg laen lari.
muhammad kasuba jadi bupati…
torang angkat suba jadi kembali.
\(^<^)/
HIDUP MK-RUSDAN !!!